Selasa, 23 Agustus 2011

Fatah, I Love You ! (Part 1)

Dear diary..
Kamu tahu nggak apa yang spesial hari ini? Yaa Rabb! Cowok itu. Anak yang aku suka selama sembilan tahun, dia senyum sama aku. Aduh merinding aku tadi pas liat senyumnya itu. Ya ampuuuun, manis banget. Waktu lihat senyumnya tadi, aku serasa terbang. hahahha.. lebaaay banget tahu ngga sii ! piss .
Nah ceritanya tuh gini nih. Tadi waktu di kelas, kan tempat duduk antara anak cewek sama cowok itu melingkar. Otomatis ada tuh yang duduknya ngadep ke cowok. Terus, aku lagi numpang duduk di kursinya Dena. Pas aku lagi ngadep depan, eh ada orang itu! Aku kan lagi senyum, terus aku liat dia senyum ke aku.. Kita jadi malah liat-liatan. Aduh, so sweet banget!
Lah.. lah.. lah! Irin. Kamu kok jadi lebay gini sii? Hahahahhaa.. Aku bener-bener terpesona sama senyuman dia yang manis banget.. Aduh! Diary, gimana nih hatiku yang terus-menerus menyimpan perasaan mendalam padanya? Aku nggak mau terus-terusan gini. Tolongin aku yah..
------------- Say Good Bye -----------

 Ku lihat jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 06.57. 3 menit lagi. Oh no! Bel akan berbunyi.
“Aduh gila, aku bisa telat nih.  Tinggal 3 menit lagi,” batinku. “Mas Ray mana sih? Aku bisa telat nih kalau lama-lama.” lanjut batinku.
“Mas Ray, cepetan! Ay uda telat nih. 3 menit lagi Pak Aceng tutup gerbangnya. Maaaaaas!”
“Iya Ayya. Tunggu bentar dong. 3 menit itu lama, nanti mas bakalan ngebut. Bentar ya cantik, tungguin nih bentar lagi mas kelar!”
“Iya.. Buruan tapi Mas Rayhan lemoooot!”
“Yupsi. Ya, ya, ya nii udah, kamu aja yang ngelamun terus. Buruan Ayyam.” kata Mas Rayhan yang sudah menstarter motornya.
Sepanjang perjalanan hatiku tak bisa tenang. Pukul 06.58, 2 menit lagi gerbang akan ditutup. Padahal aku baru sampai ke Mall Radja Persada, masih 2 kali lampu merah untuk sampai sekolahku. Mas Ray yang sudah berjanji akan mengantarkanku tepat waktu langsung menaikan kecepatannya.
“Phew, untung gerbangnya belum ditutup. Ay, udah sana kamu masuk kelas. Katanya takut telat?” goda Mas Ray.
“Lah, ngusir nih ceritanya?”
“Bukan ngusir, mas cuma takut kamu dihukum.”
“Iya deh, dadaah Mas! hati-hati yaa..” kataku malambaikan tangan, sambil melangkah memasuki lapangan sekolah.
Sepanjang koridor menuju kelas, aku terus melamun. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Banyak sekali hal yang aku pikirkan beberapa hari ini. Mulai dari aku yang diminta Bu Zhika untuk ikut serta dalam lomba Sains bulan ini. Mas Ray yang lagi linglung karena ada yang nembak. Si Ijonk yang bikin ulah kemarin pas ulang tahun Ghaida. Dan yang paling menggangguku saat ini adalah cowok itu yang selalu ada dipikiranku.
“Waduh? Rin, kok kamu lebay gitu sih?”  tanya separuh hatiku.
“Idih, aku nggak lebay amat kali. Tapi bener deh, sumpah! Dia tuh ganteng plus keren banget. Aaarght, beneran aku suka sama dia.” jawab hatiku yang lain.
Bruuuuk!
“Aduuh, eh maaf yah. Sorry, sorry aku nggak liat.” kataku mencoba minta maaf pada anak yang sedang membersihkan celananya.
“Iya kok nggak apa-apa. Eh, ini punyamu?” tanya anak itu sambil mengambil buku yang jatuh tidak jauh dengannya.
“Oh iya itu punyaku. Makasih ya, makasih banyak. Nggak apa-apa sini biar aku aja yang ambil.”
Ketika aku ingin mengambil bukuku, aku tak sengaja melihat wajah anak itu.
“Waduh? Nggak salah nih siapa yang ada di depanku? Anak yang tadi aku tabrak, cowok itu!” kata hatiku.
 Wajahnya begitu dekat denganku. Senyumnya sangat manis. Membuat aku tergila-gila padanya. Allah.. aku nggak mimpikan lihat muka dia dari deket? Aku harap ini bukan mimpi. Kalaupun ini mimpi, aku mau supaya aku nggak bangun dulu. Aku pengen liat muka dia dari deket lebih lama lagi.
“Halo! Rin, Irin. Kamu kenapa?” tanya Fatah, nama anak itu.
“Eh, nggak kok. Makasih ya Fatah.” kataku, bingung harus mengatakan apa.
“Ini bukunya.”
“Makasih banyak lho Mas.”
Ups! Kenapa tadi aku manggil dia mas? Gimana nih, moga aja dia nggak denger yah.
------------- Say Good Bye -----------

1 komentar:

  1. ka naaaaay, lanjutin lagi dong ceritanya. hehehehe, aku suka. jadi penasaran sama lanjutannya.. :D

    BalasHapus